Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Nadhom Sunda oleh Sopian Nursidik

Cang cing cung Nadhoman Aqoidul Iman versi Sunda... Mangga         Ari sadayana aqoidul iman eta Aya 50 20 nu wajib di Allah,         20 nu mustahil di Allah         Anu wenangna 1, jadi jumlah 41. Anu wajib di Rosul 4 Nu mustahil di Rosul 4  Nu wenangna 1, jadi jumlah sadayana 50. Hatur nuhun,,,

"Panggil Saja Aku INDONESIA!" oleh Rezi Fauzi Rahman

Gambar
Dari jauh ku perhatikan anak itu. Ia terus saja duduk merenung. Jelas kalau ia sedang mempunyai masalah. Entah apa, kurasa aku harus bertanya. . “Hey, kau sehat?” tanyaku penasaran. “Yah, aku sangat sehat” jawabannya tanpa memalingkan muka. . “Ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan?” tanyaku tidak menyerah. “Entahlah. Ada yang berbeda dari tubuhku kini. Ia sehat, tapi terus merasa sakit. Ia baik, namun pikirannya tak berkutik”. Ujarnya . Aku membiarkan ia bercerita tentang perasaannya, tanpa memotong atau bertanya. Aku tau, ia   butuh didengar, karenanya aku menunggu hingga ia melanjutkan. . “Rasanya ada dua kubu didalam tubuhku. Yang satu dengan kejahatannya yang kuberi nama nafsu. Yang satu dengan kebaikannya kuberi nama hati. Nafsuku yang sedang berkuasa didalam tubuh. Ia sering menyudutkan hati, bahkan kalau bisa, ia ingin membunuhnya” tambahnya panjang lebar. . “Kenapa kau yakin kalau nafsu mu yang bertkuasa? Apakah tubuhmu sekarang tak memiliki hati?

Islam Di Indonesia Oleh Agus Muhaemin

Teori Hamka menyatakan bahwa Islam masuk ke nusantara pada abad ke 7. Kemudian berdirilah kerajaan Islam pertama di ujung Sumatera yang bernama kerajaan Samudra Pasai. Ada beberapa literatur yang menyatakan bahwa masuknya Islam ke Indonesia lebih tua dari teori Hamka. Di duga kerajaan pertama bukanlah kerajaan Samudra Pasai, melainkan kerajaan Syi’ah yang bernama kerajaan Perlak. Namun pendapat Hamka ini masih lebih kuat. Seiring berkembangnya Islam di Nusantara, berdirilah kerajaan-kerajaan Islam. Diantaranya Kerajaan Demak yang menjadi pusat pemerintahan Islam di tanah Jawa pada abad 15 M, atau lebih tepatnya 1457 M. perkembangan yang pesat ini tentu berkat umat Islam yang terorganisir. Sebut saja Walisongo yang menggalakan gelora jihad di tanah Jawa. Abad 19 di Sumatera Barat dan sekitarnya terutama di kawasan kerajaan pagaruyung, pecah pertempuran Kaum Padri melawan Kaum Adat yang di motori oleh ulama Minangkabau yang bertujuan untuk menghilangkan kebiasaan kaum Adat seperti

Dialog Sains Dengan Hadits Oleh Muhammad Ihsan

“Jika seekor lalat jatuh dalam minuman salah seorang diantara kamu maka hendaklah ia membenamkannya (sekalian untuk) kemudian mengangkatnya. Sesungguhnya di dalam salah satu sayapnya terdapat penyakit dan di sayap lain terdapat obat penawar.” (Shahih Bukhariy: 3320, 5782) Mayoritas manusia di muka bumi menganggap lalat sebagai serangga yang menjijkan dan membawa banyak bakteri dan bibit penyakit. Sehingga kebanyakan orang ketika menemukan makanan atau minumannya dihinggapi lalat, dia tidak mau untuk memakan atau meminummya kembali. Namun dalam hal ini, orang yang terbiasa membuang minuman yang telah dihinggapi lalat dan tidak pernah mencoba melakukan perintah nabi dalam hadits ini tidak bisa meragukan hadits ini begitu saja, karena hadits ini berpredikat shahih secara matan sebagaimana yang di sampaikan imam Bukhari, Ibn Majah, Abu Dawud, dan lain-lain.     Men-syarahi hadits ini, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa lalat melindungi dirinya dengan sayap sebelah kiri.

Dinamika Agama dan Budaya dalam ke-Indonesiaan Oleh Landi Iskandar

Sejak awal perkembangannya, agama-agama di Indonesia telah menerima akomodasi budaya. Sebagai contoh Agama Islam, dimana Islam sebagai agama faktual banyak memberikan norma-norma atau aturan tentang kehidupan dibandingkan dengan agama-agama lain. Jika dilihat dari kaitan Islam dengan budaya, paling tidak ada dua hal yang perlu diperjelas. Pertama, Islam sebagai konsespsi sosial budaya dan Islam sebagai realitas budaya. Kedua, Islam sebagai konsepsi budaya ini oleh para ahli sering disebut dengan great tradition (tradisi besar), sedangkan Islam sebagai realitas budaya disebut dengan little tradition (tradisi kecil) atau local tradition (tradisi local) atau juga Islamicate, bidang-bidang yang “Islamik” yang dipengaruhi Islam. Tradisi besar Islam adalah doktrin- doktrin original Islam yang permanen atau setidak-tidaknya merupakan interpretasi yang melekat ketat pada ajaran dasar. Dalam ruang yang lebih kecil doktrin ini tercakup dalam konsepsi keimanan dan syariah atau hukum Islam yang m